BAB II
Tinjauan
Umum Pengembangan Sistem
2.1 Definisi
Pengembangan Sistem
Pengembangan sistem informasi sering disebut proses pengembangan sistem
(System Development). Terdapat beberapa definisi mengenai pengembangan sistem
informasi diantaranya adalah:
1.
Aktifitas untuk menghasilkan sistem informasi berbasis
computer untuk menyelesaikan permasalahan
(problem) organisasi atau memanfaatkan kesempatan (opportunities) yang
timbul.
2. Kumpulan kegiatan para analis sistem, perancang, dan
pemakai yang mengembangkan dan mengimplementasikan sistem informasi.
3.
Tahapan kegiatan yang dilakukan selama pembangunan
sistem informasi.
4.
Proses merencanakan, mengembangkan, dan
mengimplementasikan sistem informasi dengan menggunakan metode, teknik, dan
alat bantu pengembangan tertentu.
Pengembangan sistem (systems
development) dapat berarti menyusun suatu sistem yang baru untuk
menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang
telah ada. Sistem yang lama perlu diperbaiki atau diganti disebabkan
karena beberapa hal, yaitu sebagai berikut ini:
1. Adanya
permasalahan-permasalahan (problems) yang timbul di sistem yang lama.
2. Ketidakberesan
dalam sistem yang lama menyebabkan sistem yang lama tidak dapat beroperasi
sesuai dengan yang diharapkan.
3. Kecurangan-kecurangan
disengaja yang menyebabkan tidak amannya harta kekayaanperusahaan dan
kebenaran dari data menjadi kurang terjamin.
4. Kesalahan-kesalahan
yang tidak disengaja yang juga dapat menyebabkan kebenaran dari data
kurang terjamin.
5. Tidak
efisiennya operasi.
6. Tidak
ditaatinya kebijaksanaan manajemen yang telah ditetapkan.
7. Pertumbuhan
organisasi.
Sebuah
sistem informasi adalah untuk mengatur manusia dan komponen-komponenmesin, dan
prosedur-prosedur yang saling berkaitan untuk mendukung
kebutuhan informasi atau bisnis pada sebuah organisasi dan para pengguna
sistem. Sistem tersebut tidak seperti paket program perangkat lunak aplikasi
tetapi harus terlebih dahulu dikostumisasi.
2.2 Alasan
Pengembangan Sistem
-
Adanya masalah yang timbul dari sistem
yang lama. Permasalahan yang timbul dapat berupa:
a. Ketidakberesan dalam
sistem yang lama yang menyebabkan sistem tersebut tidak dapat beroperasi sesuai
yang diharapkan.
b. Pertumbuhan organisasi
yang menyebabkan harus disusunnya sistem yang baru.
-
Untuk meraih kesempatan–kesempatan dalam
berbagai hal
-
Adanya instuksi dari pimpinan atau
adanya peraturan dari pemerintah
2.3 Prinsip Pengembangan Sistem
1.
Sistem yang dikembangkan adalah untuk manajemen
2.
Sistem yang dikembangkan adalah investasi modal yang
besar maka
setiap investasi modal harus mempertimbangkan 2 hal berikut ini :
-
Semua alternative yang ada harus
diinvestigasikan
-
Investasi yang terbaik harus bernilai
3.
Sistem yang dikembangkan memerlukan orang yang
terdidik
4.
Tahapan kerja dan tugas-tugas yang harus dilakukan
dalam proses pengembangan sistem
5.
Jangan takut membatalkan proyek
6.
Dokumentasi harus ada untuk pedoman dalam pengembangan
sistem
2.4 Siklus
Hidup Pengembangan Sistem
Siklus Hidup
Pengembangan Sistem (System Development Life Cycle-SDLC) merupakan
suatu bentuk yang digunakan untuk menggambarkan tahapan utama dan langkah-langkah
pada tahapan tersebut dalam proses pengembangan sistem”. (Sutabri Tata,
2013:56)
Siklus hidup
sistem informasi dimulai dari fase perencanaan, fase pengembangan (investigasi,
analisis, desain, implementasi) dan dievaluasi secara terus menerus untuk
menetapkan apakah sistem informasi tersebut masih layak diaplikasikan.
Penjelasan mengenai fase-fase dari siklus hidup pengembangan sistem informasi,
yaitu sebagai berikut:
·
Kebijakan
dan Perencanaan Sistem
Perencanaan pengembangan sistem informasi bertujuan
untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan sistem informasi apa yang akan
dikembangkan, sasaran-sasaran yang ingin dicapai, jangka waktu pelaksanaan,
serta mempertimbangkan dana yang tersedia dan siapa yang akan melaksanakan.
Adanya instruksi dari top manajer kepada bawahan bahwa
perusahaan tersebut perlu dilakukan pengembangan sistem. Di dalam perencanaan
sistem perlu direncanakan terlebih dahulu mengenai:
a.
Berapa besar dana yang dibutuuhkan untuk mengembangkan
sistem
b.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan
sistem
c.
Sudah siapkah personil-personil yang terlibat dalam
pengembangan sistem
·
Analisis
Sistem
Mengevaluasi permasalahan-permasalahan,
hambatan-hambatan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan sehingga
dapat diusulkan perbaikan-perbaikan.
·
Desain
Sistem secara Umum
Tujuan untuk memberikan gambaran secara umum kepada
user tentang sistem yang baru.
·
Desain
Sistem secara terinci
Tujuan untuk memberikan gambaran secara terperinici
kepada user tentang sistem yang baru.
·
Seleksi
sistem
Menyeleksi penggunaan software maupun hardware di
dalam penerapan sistem baru.
·
Implementasi
sistem
Tahap ini adalah prosedur yang dilakukan untuk
menyelesaikan desain sistem yang ada dalam dokumen desain sistem disetujui dan
menguji, menginstall dan memulai penggunaan sistem baru atau sistem yang
diperbaiki. Tahap ini untuk menerapkan sistem informasi di dalam satu
organisasi atau perusahaan.
·
Perawatan
sistem
Tujuannya adalah untuk menjaga agar sistem informasi
dapat digunakan dalam organisasi tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama.
2.5 Metodologi Pengembangan Sistem
1. Metodologi
Waterfall
Metodologi Waterfall merupakan model klasik yang
sederhana dengan aliran sistem yang linier. Output dari setiap tahap merupakan
input bagi tahap berikutnya. Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Winston
Royce tahun 1970, sekarang model ini lebih dikenal dengan Liner Sequential
Model.
Karakteristik dari metodologi waterfall ini meliputi
beberapa bagian, yaitu :
·
Aktivitas mengalir dari satu fase ke fase lainnya
secara berurutan.
·
Setiap fase
dikerjakan terlebih dahulu sampai selesai, jika sudah selesai baru mulai menuju
fase berikutnya.
Tahapan penelitian pada model waterfall
meliputi metodologi berupa:
1.
System
Engineering
Menetapkan segala hal yang diperlukan
dalam pelaksanaan proyek.
2.
Analisis
Menganalisis hal-hal yang diperlukan untuk pembuatan atau pengembangan perangkat lunak.
Menganalisis hal-hal yang diperlukan untuk pembuatan atau pengembangan perangkat lunak.
3.
Design
Tahap penerjemahan dari keperluan atau data yang telah dianalisis ke dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh programmer. Tiga atribut yang penting dalam proses perancangan yaitu : struktur data, arsitektur perangkat lunak dan prosedur rinci / algoritma.
Tahap penerjemahan dari keperluan atau data yang telah dianalisis ke dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh programmer. Tiga atribut yang penting dalam proses perancangan yaitu : struktur data, arsitektur perangkat lunak dan prosedur rinci / algoritma.
4.
Coding
Menerjemahkan data yang telah dirancang / algoritma ke dalam bahasa pemrograman yang telah ditentukan.
Menerjemahkan data yang telah dirancang / algoritma ke dalam bahasa pemrograman yang telah ditentukan.
5.
Testing
Uji coba terhadap program telah dibuat.
Uji coba terhadap program telah dibuat.
6. Maintenance
Perubahan atau penambahan program sesuai dengan permintaan user.
Perubahan atau penambahan program sesuai dengan permintaan user.
Kelebihan dari metode WaterFall :
Metode ini masih lebih baik digunakan
walaupun sudah tergolong kuno, daripada menggunakan pendekatan asal-asalan.
Selain itu, metode ini juga masih masuk akal jika kebutuhan sudah diketahui
dengan baik.
Kekurangan dari metode Waterfall :
·
Pada
kenyataannya, jarang mengikuti urutan sekuensial seperti pada teori. Iterasi
sering terjadi menyebabkan masalah baru.
·
Sulit bagi
pelanggan untuk menentukan semua kebutuhan secara eksplisit.
·
Pelanggan harus
sabar, karena pembuatan perangkat lunak akan dimulai ketika tahap desain sudah
selesai. Sedangkan pada tahap sebelum desain bisa memakan waktu yang lama.
·
Kesalahan
di awal tahap berakibat sangat fatal pada tahap berikutnya.
2.
Metodologi
Prototipe
Model ini dikembangkan karena adanya
kegagalan yang terjadi akibat pengembangan project / aplikasi menggunkan sistem
waterfall. Kegagalan yang terjadi biasanya dikarenakan adanya kekurang pahaman
atau bahkan sampai kesalah pahaman pengertian developer aplikasi mengenai user
requirement yang ada.
Yang berbeda dari metodologi prototipe ini, apabila dibandingkan dengan waterfall, yaitu adanya pembuatan prototype dari sebuah aplikasi, sebelum aplikasi tersebut memasuki tahap design. Dalam fase ini, prototype yang telah dirancang oleh developer akan diberikan kepada user untuk mendapatkan dievaluasi. Tahap ini akan terus menerus diulang sampai kedua belah pihak benar-benar mengerti tentang requirement dari aplikasi yang akan dikembangkan. Apabila prototype telah selesai, maka tahapan aplikasi akan kembali berlanjut ke tahap design dan kembali mengikuti langkah-langkah pada waterfall model. Kekurangan dari tipe ini adalah tim developer pengembang aplikasi harus memiliki kemampuan yang baik karna dalam mengembangkan prototype ini hanya terdapat waktu yang singkat. Sebuah prototiping adalah sebuah sistem dalam fungsi yang sangat minimal.
Yang berbeda dari metodologi prototipe ini, apabila dibandingkan dengan waterfall, yaitu adanya pembuatan prototype dari sebuah aplikasi, sebelum aplikasi tersebut memasuki tahap design. Dalam fase ini, prototype yang telah dirancang oleh developer akan diberikan kepada user untuk mendapatkan dievaluasi. Tahap ini akan terus menerus diulang sampai kedua belah pihak benar-benar mengerti tentang requirement dari aplikasi yang akan dikembangkan. Apabila prototype telah selesai, maka tahapan aplikasi akan kembali berlanjut ke tahap design dan kembali mengikuti langkah-langkah pada waterfall model. Kekurangan dari tipe ini adalah tim developer pengembang aplikasi harus memiliki kemampuan yang baik karna dalam mengembangkan prototype ini hanya terdapat waktu yang singkat. Sebuah prototiping adalah sebuah sistem dalam fungsi yang sangat minimal.
Tahapan Metodologi Prototipe :
1.
Pengumpulan
Kebutuhan dan perbaikan
Menetapkan segala kebutuhan untuk
pembangunan perangkat lunak.
2.
Disain
cepat
Tahap penerjemahan dari keperluan atau
data yang telah dianalisis ke dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh user.
3.
Bentuk
Prototipe
Menerjemahkan data yang telah dirancang
ke dalam bahasa pemrograman (Program contoh atau setengah jadi).
4.
Evaluasi
Pelanggan Terhadap Prototipe
Program yang sudah jadi diuji oleh
pelanggan, dan bila ada kekurangan pada program bisa ditambahkan.
5.
Perbaikan
Prototype
Perbaikan program yang sudah jadi,
sesuai dengan kebutuhan konsumen. Kemudian dibuat program kembali dan di
evaluasi oleh konsumen sampai semua kebutuhan user terpenuhi.
6.
Produk
Rekayasa
Program yang sudah jadi dan seluruh
kebutuhan user sudah terpenuhi.
2.6 Pendekatan Pengembangan Sistem
Terdapat beberapa pendekatan untuk mengembangkan
sistem, yaitu:
1.
Pendekatan klasik lawan pendekatan terstruktur
(dipandang dari metodologi yang digunakan). Pendekatan klasik adalah pendekatan
di dalam pengembangan sistem yang mengikuti tahapan-tahapan di system life
cycle tanpa dibekali dengan alat-alat dan teknik-teknik yang memadai. Sedangkan
pada pendekatan terstruktur dilengkapi dengan alat-alat dan teknik-teknik
supaya membuatnya berhasil.
2.
Pendekatan sepotong lawan pendekatan sistem (dipandang
dari sasaran yang akan dicapai). Pendekatan sepotong merupakan pendekatan
pengembangan sistem yang menekankan pada suatu kegiatan atau aplikasi tertentu
saja. Sedangkan pada pendekatan sistem memperhatikan sistem informasi sebagai
satu kesatuan terintegrasi untuk masing-masing kegiatan atau aplikasinya.
3.
Pendekatan bawah-naik lawan pendekatan atas-turun
(dipandang dari cara menentukan kebutuhan dari sistem). Pendekatan bawah-naik
dimulai dari level bawah organisasi, yaitu level operasional dimana transaksi
dilakukan. Pendekatan ini dimulai dari perumusan kebutuhan-kebutuhan untuk
menangani transaksi dan naik ke level atas dengan merumuskan kebutuhan
informasi berdasarkan transaksi tersebut. Pendekatan ini disebut juga dengan
data analisis, karena yang menjadi tekanan adalah data yang akan diolah
terlebih dahulu, informasi yang akan dihasilkan menyusul mengikuti data.
Pendekatan atas-turun sebaliknya dimulai dari level atas organisasi, yaitu
level perencanaan strategi. Pendektan ini disebut juga dengan decision
analysis, karena yang menjadi tekanan adalah informasi yang dibutuhkan untuk
pengambilan keputusan oleh manajemen terlebih dahulu. Kemudian data yang perlu
diolah menyusul mengikuti informasi yang dibutuhkan.
4.
Pendekatan sistem-menyeluruh lawan pendekatan moduler
(dipandang dari cara mengembangkannya). Pendektan sistem-menyeluruh merupakan
pendekatan yang mengembangkan sistem serentak secara menyeluruh. Sedangkan
pendekatan moduler berusaha memecahkan sistem yang rumit menjadi beberapa
bagian atau modul yang sederhana, sehingga sistem akan lebih mudah dipahami dan
dikembangkan.
5.
Pendekatan lompatan jauh lawan pendekatan berkembang
(dipandang dari teknologi yang akan digunakan). Pendekatan lompatan jauh
menerapkan perubahan menyeluruh secara serentak menggunakan teknologi canggih.
Sedangkan pendekatan berkembang menerapkan teknologi canggih hanya untuk
aplikasi-aplikasi yang memerlukan saja pada saat itu saja.
2.7 Alat & Teknik Pengembangan
Sistem
1. Alat Pengembangan Sistem
Dalam membuat sebuah sistem informasi seorang
programer bukanlah satu-satunya yang menentukan sistem ini bisa diterima kah
atau tidak dengan usernya. Untuk itu diperlukan suatu media yang dibuat agar
gagasan mengenai rancangan sistem yang dibuat dapat dikomunikasikan dan bisa
diterima oleh user. Cara melakukan komunikasi adalah dengan suatu diagram
yang menggambarkan secara visual menegnai bagaimana sistem komputerisasi
nantinya akan bekerja.
a.
FLOW OF DOCUMENT (FOD)
FOD adalah suatu diagram yang menggambarkan sistem
dokumen dari proses pelaporan yang dapat dihubungkan satu sama lain dengan alur
data, baik secara manual maupun secara terkomputerisasi (jogiyanto,2011).
Diagram tersebut menggunakan simbol-simbol yang sudah baku. Berikut ini
simbol-simbol yang digunakan :
b.
DATA FLOW DIAGRAM (DFD)
Data flow
diagram merupakan alat yang digunakan pada metodologi pada pengembangan
sistem yang tersetruktur untuk menggambarkan arus data dalam sistem
dengan tersetruktur dan jelas (Jogiyanto,2001).
c.
HIERARCHY PLUS INPUT PROCESS OUTPUT (HIPO)
Jogianto 2001,
Mendefinisikan bahwa HIPO sebagai metedologi yang dikembangkan dan digunakan
sebagai alat pengembangan sistem dan teknik dokumentasi.
2. Teknik Pengembangan Sistem
Teknik yang digunakan untuk pengembangan sistem
diantaranya :
1. Teknik
Manajemen Proyek, yaitu CPM dan PERT. Kedua teknik ini digunakan untuk
penjadwalan waktu pelaksanaan proyek.
a.
CPM (Critical Path Method)
adalah algoritma berbasis matematika untuk menjadwalkan sekelompok aktivitas
proyek.
b.
PERT (Program Evaluation and Review
Technique) adalah sebuah metode dalam menganalisis berbagai tugas yang
saling terkait untuk menyelesaikan sebuah proyek, khususnya mengenai waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap tugas dan menentukan waktu minimal yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan keseluruhan proyek.
Kelebihan:
·
PERT secara eksplisit mendefinisikan dan membuat
hubungan keterkaitan (dependensi) di antara elemen-elemen terlihat
·
PERT memfasilitasi peng-identifikasi-an jalur kritis
dan membuat jalur tersebut terlihat
·
Mengoptimumkan efisiensi pelaksanaan proyek yang
bersangkutan.
·
Dicapainya penurunan terbesar dalam waktu yang
diperlukan untuk menyelesaikan proyek yang bersangkutan sambil tetap
mempertahankan kelayakan ekonomi dari penggunaan sumber daya yang tersedia.
·
Data proyek dalam jumlah besar dapat diatur &
disajikan dalam diagram untuk digunakan dalam pengambilan keputusan.
Kelemahan:
·
Terdapat kemungkinan ratusan bahkan ribuan kegiatan
dan hubungan ketergantungan antar komponen
·
Grafik jaringan cenderung besar dan berat sehingga
membutuhkan beberapa halaman untuk mencetak dan membutuhkan kertas ukuran khusus
·
Tidak adanya kerangka waktu pada kebanyakan grafik
CPM/PERT membuat lebih sulit untuk menunjukkan status meskipun warna bisa
membantu (misalnya, warna khusus untuk node selesai)
·
Ketika grafik CPM / PERT menjadi berat, mereka tidak
lagi digunakan untuk mengelola proyek.
2. Teknik
Menemukan Fakta (Fact finding technique), yaitu teknik yang
dapat digunakan untuk mengumpulkan data dan menemukan fakta-fakta dalam
kegiatan mempelajari sistem yang ada. Teknik ini diantaranya adalah
a. Wawancara (Interview),
yaitu tanya jawab dengan seseorang yang diperlukan untuk dimintai keterangan
atau pendapatnya mengenai suatu hal. wawancara memungkinkan analis sistem
sebagai pewawancara (interviewer) untuk mengumpulkan data secara tatap
muka langsung dengan orang yang diwawancarai (interviewee).
Kelebihan:
·
Wawancara memberikan kesempatan kepada pewawancara
untuk memotivasi orang yang diwawancarai untuk menjawab dengan bebas dan
terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
·
Memungkinkan pewawancara untuk mengembangkan pertanyaan-pertanyaan
sesuai dengan situasi yang berkembang.
·
Pewawancara dapat menilai kebenaran jawaban yang
diberikan dari gerak-gerik dan raut wajah orang yang diwawancarai.
·
Pewawancara dapat menanyakan kegiatan-kegiatan khusus
yang tidak selalu terjadi.
Kelemahan:
·
Proses wawancara membutuhkan waktu yang lama.
·
Keberhasilan hasil wawancara sangat tergantung dari
kepandaian pewawancara untuk melakukan hubungan antar manusia.
·
Wawancara tidak selalu tepat untuk kondisi-kondisi
tenpat yang tertentu, misalnya di lokasi-lokasi yang ribut dan ramai.
·
Wawancara sangat menganggu kerja dari orang yang
diwawancarai bila waktu yang dimilikinya sangat terbatas.
b. Observasi (Observation),
yaitu pengamatan langsung suatu kegiatan yang sedang dilakukan, yang mana pada
waktu observasi penganalisis (analis sistem) dapat ikut juga berpartisipasi
dengan orang-orang yang sedang melakukan suatu kegiatan tersebut.
Melalui observasi, analis sistem dapat memperoleh pandangan-pandangan
mengenai apa yang sebenarnya dilakukan, melihat langsung keterkaitan diantara
para pembuat keputusan di dalam organisasi, memahami pengaruh latar belakang
fisik terhadap para pembuat keputusan, menafsirkan pesan-pesan yang dikirim
oleh pembuat keputusan lewat tata letak kantor, serta memahami pengaruh para
pembuat keputusan terhadap pembuat keputusan lainnya.
Kelebihan:
1.
Data yang dikumpulkan melalui observasi cenderung
mempunyai keandalan yang tinggi.
2.
Analis sistem melalui observasi dapat melihat langsung
apa yang sedang dikerjakan. Pekerjaan-pekerjaan yang rumit kadang-kadang sulit
untuk dijelaskan dengan kata-kata. Melalui observasi, analis sistem dapat
mengidentifikasikan kegiatan-kegiatan yang tidak tepat yang telah digambarkan
oleh teknik pengumpulan data yang lain.
3.
Dengan observasi, analis sistem dapat menggambarkan
lingkungan fisik dari kegiatan-kegiatan, misalnya tata letak fisik peralatan,
penerangan, dan gangguan suara.
Kelemahan:
1.
Akan sangat mudah terjadi bias dalam pelaporan hasil
observasi, karena data yang diperoleh bersifat Subyektif.
2.
Umumnya orang yang diamati merasa terganggu atau tidak
nyaman, sehingga akan melakukan pekerjaanya dengan tidak semestinya.
3.
Pekerjaan yang sedang diobservasi mungkin tidak dapat
mewakili suatu tingkat kesulitas pekerjaan tertentu atau kegiatan-kegiatan
khusus yang tidak selalu dilakukan.
4.
Observasi dapat mengganggu pekerjaan yang sedang
dilakukan.
5.
Orang yang diamati cenderung melakukan pekerjaannya
dengan lebih baik dari biasanya dan sering menutupi kejelekannya.
c. Daftar
pertanyaan (Questionaires), yaitu suatu daftar yang
berisi dengan pertanyaan-pertanyaan untuk tujuan khusus yang memungkinkan
analis sistem untuk mengumpulkan data dan pendapat dari responden-responden
yang dipilih. Instrumen atau alat pengumpulan datanya disebut angket yang
berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab atau direspon oleh
responden. Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atau respon
sesuai dengan persepsinya.
Kelebihan:
1.
Kuesioner baik untuk sumber data yang banyak dan
tersebar.
2.
Responden tidak merasa terganggu, karena dapat mengisi
kuesioner dengan memilih waktunya sendiri yang paling luang.
3.
Kuesioner secara relatif lebih efisien untuk sumber
data yang banyak.
4.
Karena kuesioner biasanya tidak mencantumkan identitas
responden, maka hasilnya dapat lebih objektif.
Kelemahan:
1.
Kuesioner tidak menggaransi responden untuk menjawab
pertanyaan dengan sepenuh hati.
2.
Kuesioner cenderung tidak fleksibel, artinya
pertanyaan yang harus dijawab terbatas yang dicantumkan di kuesioner saja,
tidak dapat dikembangkan lagi sesuai dengan situasinya.
3.
Pengumpulan sampel tidak dapat dilakukan secara
bersama-sama dengan daftar pertanyaan, lain halnya dengan observasi yang dapat
sekaligus mengumpulkan sampel
4.
Kuesioner yang lengkap sulit untuk dibuat.
d. Pengumpulan
Sampel (Sampling), yaitu pemilihan sejumlah item tertentu dari seluruh
item yang ada dengan tujuan mempelajari sebagian item tersebut untuk mewakili
seluruh itemnya dengan pertimbangan biaya dan waktu yang terbatas.
3. Teknik
Analisis Biaya/Manfaat (Cost Effectiveness Analysis atau Cost
Benefit Analysis) adalah suatu teknik yang digunakan untuk menghitung
kelayakan ekonomis atau biaya yang berhubungan dengan pengembangan
sistem informasi seperti :
·
biaya pengadaan
·
biaya persiapan
·
biaya proyek
·
biaya operasi
serta manfaat yang didapat dari sistem informasi seperti ;
·
manfaat mengurangi biaya
·
manfaat mengurangi kesalahan
·
manfaat meningkatkan kecepatan aktivitas
·
manfaat meningkatkan perencanaan dan pengendalian
manajemen.
Keuntungan dari pengembangan sistem informasi tidak semuanya mudah diukur
secara langsung dengan nilai uang, seperti misalnya keuntungan pelayanan kepada
pelanggan yang lebih baik. Keuntungan yang sulit diukur langsung dengan nilai
uang ini selanjutnya jika ingin ditentukan dalam bentuk nilai uang, maka akan dapat
menaksir efektivitasnya.
Suatu sistem dikatakan layak apabila manfaat yang diperoleh lebih besar
dari investasi/biaya yang dikeluarkan untuk membangun dan mengoperasikan sistem
tersebut. Oleh karena itu, dalam analisis biaya/manfaat, biasanya melibatkan
dua komponen penting, yaitu komponen biaya dan komponen manfaat (efektivitas).
4. Teknik
Menjalankan Rapat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rapat dapat diartikan sebagai
pertemuan (kumpulan) untuk membicarakan sesuatu.
Selama proses pengembangan sistem dilakukan, seringkali rapat-rapat
diadakan baik oleh tim pengembangan sistem sendiri atau rapat antara tim
pengembangan sistem dengan pemakai sistem dan manajer, sehingga kemampuan
analis sistem untuk memimpin atau berpartisipasi di dalam suatu rapat merupakan
hal yang penting terhadap kesuksesan proyek pengembangan sistem.
Tujuan dari rapat dalam pengembangan sistem diantaranya adalah untuk :
·
mendefinisikan masalah
·
mengumpulkan ide-ide
·
memecahkan permasalahan-permasalahan
·
menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi
·
menganalisis kemajuan proyek
·
mengumpulkan data atau fakta
·
perundingan-perundingan.
Tahapan pelaksanaan kegiatan dalam
rapat :
·
merencanakan rapat
·
menjalankan rapat
·
menindaklanjuti hasil rapat.
5. Teknik
Inspeksi /
Walkthrough
Proses dari analisis dan desain sistem harus diawasi. Pengawasan ini dapat
dilakukan dengan cara mem-verifikasi hasil dari setiap tahap pengembangan
sistem. Verifikasi hasil kerja secara formal disebut dengan Inspeksi (inspection)
sedangkan yang tidak formal disebut Walkthrough.
Inspeksi merupakan kepentingan dari pemakai sistem dan walkthrough
merupakan kepentingan dari analis sistem. Analis sistem melakukan walkthrough
untuk maksud supaya dokumentasi yang akan diserahkan kepada pemakai sistem
secara teknik tidak mengalami kesalahan dan dapat dilakukan dengan diverifikasi
terlebih dahulu oleh analis sistem yang lain. Pemakai sistem melakukan inspeksi
untuk maksud menilai dokumentasi yang diserahkan oleh analis sistem secara
teknik tidak mengandung kesalahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar